BUMDes Kuntum Mekar Bogor Buka Wisata Petik Melon, Inovasi Desa Waringinjaya Kembangkan Pertanian dan Ekonomi Lokal

DESA AING | Sabtu, 10 Oktober 2026

KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Inovasi pengembangan ekonomi desa terus bermunculan di Jawa Barat. Salah satunya dilakukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kuntum Mekar di Desa Waringinjaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, melalui pengembangan budidaya melon hidroponik yang dipadukan dengan wisata petik buah langsung dari kebun.

Melalui kegiatan bertajuk open farm, BUMDes Kuntum Mekar membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal budidaya melon sekaligus memilih dan memetik buah yang siap panen.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10–11 Oktober 2026, dengan harga melon Rp35.000 per kilogram.

Program ini menjadi contoh pemanfaatan potensi pertanian sebagai kegiatan usaha desa yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga berupaya memperluas pemasaran melalui pengalaman wisata pertanian.

Dirintis Sejak 2025, Kini Memasuki Panen Ketiga


Berdasarkan laporan ANTARA yang diterbitkan pada Jumat, 9 Oktober 2026, Direktur BUMDes Kuntum Mekar, Rudi Irawan, menjelaskan bahwa usaha budidaya melon mulai dirintis pada Juli 2025 dan resmi berjalan sejak September 2025.

Hingga Oktober 2026, kegiatan budidaya tersebut telah memasuki masa panen ketiga.

BUMDes Kuntum Mekar mengelola dua rumah kaca atau greenhouse, masing-masing berukuran 40 × 20 meter, untuk membudidayakan melon menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT).

Sistem ini memanfaatkan aliran larutan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga pengelolaan air dan kebutuhan nutrisi dapat dilakukan secara lebih terkendali.

Pengembangan fasilitas tersebut menunjukkan adanya upaya BUMDes dalam menerapkan metode pertanian modern sebagai bagian dari kegiatan ekonomi desa.

Wisata Petik Melon Perluas Pemasaran Produk BUMDes


Melalui konsep wisata petik melon, pengunjung diberikan kesempatan memilih buah yang siap panen, memetiknya, kemudian melakukan penimbangan sebelum membawa pulang hasil pembelian.

Direktur BUMDes Kuntum Mekar menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu cara memperkenalkan produk pertanian desa sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

Pendekatan ini memiliki potensi nilai tambah karena konsumen dapat melihat langsung proses budidaya dan kondisi kebun tempat buah diproduksi.

Selain itu, konsep open farm dapat menjadi sarana pengenalan pertanian modern kepada masyarakat, termasuk pelajar dan kelompok yang memiliki minat pada usaha pertanian.

Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, wisata pertanian berpeluang membuka pasar baru dan mendukung aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.

Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi program tersebut masih perlu dibuktikan melalui data jumlah pengunjung, volume penjualan, biaya operasional, dan pendapatan yang dihasilkan.

Targetkan Panen Melon Setiap Dua Pekan


Pengawas BUMDes Kuntum Mekar, Rino Zamariska, menyampaikan bahwa pengelola sedang berupaya meningkatkan produktivitas budidaya melon.

Salah satu sasaran pengembangan usaha adalah mewujudkan pola panen secara berkala setiap dua pekan.

Target tersebut masih dalam tahap pengembangan, karena pola budidaya yang diterapkan saat ini juga digunakan sebagai percontohan untuk menentukan metode pemeliharaan yang paling efektif.

Rino turut menyampaikan bahwa melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan lebih dari 15 derajat Brix, berdasarkan keterangan pengelola yang dimuat ANTARA.

Kualitas produk menjadi faktor penting dalam membangun daya saing usaha pertanian. Namun, pengelola juga perlu menjaga konsistensi produksi, efisiensi biaya, dan kesinambungan pemasaran.

BUMDes Kuntum Mekar Juga Kelola Peternakan Ayam Petelur


Pengembangan ekonomi yang dilakukan BUMDes Kuntum Mekar tidak terbatas pada budidaya melon.

BUMDes tersebut juga menjalankan usaha peternakan ayam petelur dengan populasi sekitar 1.000 ekor.

Menurut laporan ANTARA, unit peternakan tersebut telah menghasilkan telur setiap hari. Hasilnya dipasarkan melalui warung-warung di sekitar lokasi peternakan, dengan ketentuan pembelian minimal 10 kilogram untuk distribusi.

Keberadaan unit pertanian dan peternakan menunjukkan upaya pengelola mengembangkan lebih dari satu sumber kegiatan usaha.

Diversifikasi tersebut berpotensi mendukung ketahanan pangan lokal dan memperluas sumber pendapatan BUMDes.

Namun, keberhasilan usaha tetap bergantung pada kemampuan pengelola menjaga produktivitas, mengendalikan biaya, mengembangkan pasar, dan menjalankan administrasi keuangan secara tertib.

Inovasi Ekonomi Desa Harus Disertai Tata Kelola yang Baik


Pengembangan BUMDes merupakan salah satu upaya memperkuat perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan potensi dan sumber daya desa.

Akan tetapi, keberhasilan BUMDes tidak cukup dinilai dari banyaknya unit usaha atau besarnya fasilitas produksi yang dimiliki.

Aspek keberlanjutan bisnis, pengelolaan keuangan, kemampuan menghasilkan keuntungan, serta manfaat bagi masyarakat merupakan ukuran yang tidak kalah penting.

Pengelola BUMDes perlu memastikan setiap unit usaha memiliki perencanaan yang jelas, pencatatan transaksi yang tertib, dan evaluasi berkala.

Keterbukaan informasi mengenai perkembangan usaha juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan mendukung akuntabilitas kelembagaan.

Dengan demikian, inovasi ekonomi tidak berhenti pada peluncuran program, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Menjadi Inspirasi bagi Desa Lain di Jawa Barat


Langkah BUMDes Kuntum Mekar di Desa Waringinjaya memberikan gambaran bahwa pengembangan ekonomi desa dapat dilakukan dengan menggabungkan potensi lokal, teknologi budidaya, dan strategi pemasaran yang kreatif.

Desa-desa lain di Jawa Barat memiliki peluang mengembangkan pendekatan serupa sesuai karakteristik wilayahnya.

Desa pertanian dapat mengembangkan wisata edukasi atau pemasaran langsung hasil panen. Desa peternakan dapat memperkuat pengolahan dan distribusi produk. Sementara itu, desa dengan potensi kerajinan atau wisata alam dapat menciptakan kegiatan ekonomi berbasis keunggulan lokal.

Namun, pengembangan usaha harus didahului kajian kelayakan yang mempertimbangkan permintaan pasar, modal, kemampuan pengelola, dan risiko operasional.

Setiap desa memiliki kondisi berbeda. Karena itu, inovasi yang berhasil di satu wilayah perlu dipelajari dan disesuaikan, bukan sekadar ditiru.

Penutup: Potensi Desa Perlu Diolah Menjadi Kekuatan Ekonomi


Pengembangan wisata petik melon oleh BUMDes Kuntum Mekar menjadi salah satu contoh upaya desa memanfaatkan potensi pertanian untuk memperluas kegiatan ekonomi.

Melalui dua greenhouse melon hidroponik dan unit peternakan ayam petelur, BUMDes tersebut berupaya membangun usaha yang memiliki peluang pasar sekaligus mendukung penguatan ekonomi lokal.

Kegiatan open farm yang dijadwalkan pada 10–11 Oktober 2026 menjadi momentum memperkenalkan hasil budidaya kepada masyarakat.

Ke depan, perkembangan usaha ini menarik untuk terus dipantau, khususnya mengenai realisasi target panen, hasil penjualan, perkembangan pendapatan, serta manfaat yang diterima masyarakat Desa Waringinjaya.

Kemajuan BUMDes bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya usaha yang dibangun, tetapi oleh kemampuannya mengelola potensi desa secara profesional, menjaga keberlanjutan bisnis, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

---

Sumber utama:

ANTARA Megapolitan, 9 Oktober 2026, pukul 22.09 WIB.

BUMDes Kuntum Mekar di Bogor Buka Wisata Petik Melon Langsung dari Kebun.

https://megapolitan.antaranews.com/berita/553952/bumdes-kuntum-mekar-di-bogor-buka-wisata-petik-melon-langsung-dari-kebun

Catatan redaksi: Informasi kegiatan 10–11 Oktober merujuk pada jadwal yang diumumkan pengelola. Data realisasi pengunjung, penjualan, keuntungan, dan kontribusi terhadap pendapatan desa belum tersedia dalam sumber yang diperiksa.

DESA AING — Informasi, Inspirasi, dan Pembangunan Desa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DPMD Kabupaten Sukabumi Sosialisasikan Pengisian Anggota BPD 2027, Keterwakilan Perempuan dan Regulasi Baru Jadi Perhatian

Permendagri 2 Tahun 2026 Berlaku: Pemerintah Desa Kini Punya PPID, Apa yang Berubah?

BPD Sukabumi Mulai Berganti, ABPEDNAS Dorong Percepatan Raperda Desa dan Kepastian Tunjangan Purnatugas